Beberapa waktu lalu dalam rangka Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) beredar surat dari beberapa kepala daerah yang menghimbau agar ayah mengambil lapor anaknya di sekolah. Surat edaran tersebut menuai beragam tanggapan dari masyarakat terutama bagi anak yang tidak memiliki ayah atau ayahnya yang jauh. Ada yang mengatakan bahwa program tersebut Adalah program yang tidak memberikan toleransi terhadap perasaan anak yang tidak punya ayah. Berikut penulis mencoba untuk memberikan pandangan terhadap Gerakan Ayah Teladan tersebut.
Ayah adalah tiang penyangga dalam sebuah keluarga. Perannya tidak hanya sebatas pencari nafkah, tetapi juga pendidik karakter, pelindung, penuntun nilai, dan sumber rasa aman bagi anak-anak. Sosok ayah membentuk cara anak memandang dunia, dirinya sendiri, dan orang lain. Karena itu, kehilangan ayah dalam bentuk apa pun meninggalkan jejak yang dalam bagi kehidupan keluarga.
Kehilangan sosok ayah tidak selalu terjadi karena perceraian atau ketidakhadiran emosional. Banyak anak harus merasakan kehilangan ayah karena kematian, kecelakaan, penyakit, atau sebab-sebab lain di luar kehendak keluarga. Dalam situasi seperti ini, luka yang ditinggalkan sering kali lebih dalam, karena kepergian ayah bersifat permanen dan tidak tergantikan secara fisik.
Ketika ayah tiada karena kematian, yang hilang bukan hanya figur kepala keluarga, tetapi juga tempat anak bersandar, bertanya, dan merasa dilindungi. Anak sering kali menyimpan duka dalam diam. Mereka tumbuh dengan kerinduan yang tidak terucap, dengan pertanyaan yang tidak lagi memiliki jawaban langsung dari sosok yang paling mereka harapkan.
Namun, kehilangan ayah tidak boleh membuat anak kehilangan sosok ayah. Inilah pesan penting yang harus terus disuarakan. Dalam kondisi ayah telah tiada, laki-laki terdekat dalam keluarga, paman, kakek, kakak laki-laki, atau wali harus mampu mengambil peran sebagai figur pengganti ayah. Bukan untuk menggantikan posisi ayah sepenuhnya, tetapi untuk menghadirkan nilai-nilai keayahaan: keteladanan, perlindungan, kedisiplinan, dan kasih sayang.
Bagi anak laki-laki, kehadiran figur ayah pengganti sangat penting agar mereka memiliki panutan dalam membentuk identitas diri, mengelola emosi, dan belajar tanggung jawab. Tanpa figur tersebut, anak laki-laki berisiko mencari contoh di luar keluarga yang belum tentu memberi nilai positif. Sementara bagi anak perempuan, figur ayah pengganti berperan besar dalam membangun rasa aman, kepercayaan diri, dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Peran ibu tetap sangat mulia dan utama, namun dalam banyak hal, kehadiran figur laki-laki dewasa yang berperan sebagai ayah akan melengkapi kebutuhan psikologis anak. Keluarga besar dan lingkungan sekitar memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa anak yang kehilangan ayah tidak merasa sendirian dan tidak merasa kehilangan arah.
Gerakan Ayah Teladan Indonesia mengingatkan kita bahwa ayah adalah peran, bukan semata-mata status biologis. Keteladanan ayah dapat terus hidup melalui sikap, perhatian, dan kehadiran figur pengganti yang tulus. Anak-anak yang kehilangan ayah tidak membutuhkan belas kasihan, tetapi membutuhkan kehadiran, pendampingan, dan kasih sayang yang konsisten.
Ketika sosok ayah tiada, jangan biarkan anak tumbuh tanpa figur ayah. Karena anak yang tetap merasakan kehadiran ayah dalam bentuk apa pun akan tumbuh lebih kuat, lebih percaya diri, dan lebih siap menghadapi kehidupan. Dari keluarga yang saling menguatkan inilah, akan lahir generasi Indonesia yang tangguh dan berkarakter.
Oleh : Marwis, SKM, M.Kes (Staf DPPKB Padang Pariaman)